syl's posts with tag: berhentilah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag berhentilah
Blog EntryBerhentilah Mengaduk SamuderaOct 9, '07 11:02 PM
for everyone
16 March 2007 - 03:03:55
Berhentilah Mengaduk Samudera

Silahkan Download disini !

“Saya bukan penulis!”. Begitu kalimat yang pernah diucapkan Syahrul Yasin Limpo pada suatu kesempatan. Alasannya, ia merasa hanya menumpahkan pikiran – pikirannya secara gamblang. Malah, kerap bertanya pada dirinya sendiri apakan buah pikiran saya layak dibaca?.

Menuliskan kegelisahan, protes, kegamangan, rasa bahagia, pesan, pengalaman unik, kekaguman, serta hal lainnya, sudah menjadi rutinitas kehidupannya. Sejak menulis “Masih-kah Kita Berpijak di Tanah Sorga” di halaman depan Harian Pedoman Rakyat, edisi Rabu (17 Maret 2004), kehadiran karya tulisnya selalu dinanti. Apalagi, kumpulan tulisannya berupa esai lepas sepanjang tahun 2004 itu dibukukan.

“Jangan Marah di Muara” yang ditebitkan Intermedia Publishing, Makassar, 2005, memang menjadi buku panduan yang monumental tentang kepemerintahan, kearifan lokal Sulawesi Selatan, nasionalisme, maupun pesan hidup yang universal. Itu sebabnya, tak ada alasan untuk tidak kembali mengumpulkan lalu meriset tulisan – tulisannya sepanjang tahun 2005. Namun, jelang buku ini naik cetak, ternyata empat tulisan terbarunya di awal tahun 2006, sangat relevan untuk disatukan.

Pesan – pesan hidup, termasuk warning, merupakan inti dari gaya bertutur Syahrul sehari – hari. Ia seakan tak henti berfikir. Di kamar mandi, di pesawat, di mobil, di berbagai kesempatan kesendiriannya, ia justru tidak sendiri. Ia berfikir. Ia berusaha menumpahkan geliat perenungannya dalam bentuk karya. Makanya, bila ia didadak untuk berpidato maupun ceramah, ia mampu mengeluarkan semua pikiran dan unek – uneknya tentang apa saja yang sedang mencuat di saat itu.

Hebatnya, di setiap berbicara di depan umum, ia tidak gamblang tanpa batas. Kalaupun berapi – api, tapi ia memiliki kemampuan retorika dalam mengatur ritme, klimaks dan tutur kata santun. Dan ia melontarkannya dalam bentuk – bentuk analogi dan personifikasi. Kemampuan keseniman yang mengalir dalam tubuhnya itulah yang kian mempertegas kemampuannya menggelitik cara berfikir mendengarnya.

Bila disimak lebih dalam, ada kesamaan antara retorika dan cara menulisnya. Pasalnya, di hampir semua karya tulisnya , khususnya yang dimuat sejak awal 2004 hingga awal 2006 di harian yang terbilang Koran tua di negeri ini, memiliki kesamaan gaya yakni bertutur. Malah, bisa disimpulkan yaitu, memberi narasi dulu pada prolognya tentang suatu kasus atau masalah. Tulisannya kemudian mengalir membahas permasalahan yang muncul lalu membandingkannya dengan persoalan atau pengalaman lainnya. Dan terakhir, bagai ketok palu hakim, ia menyimpulkan dengan dua teknik yakni interpretasi bebas dan tawaran interpretasi kepada pembaca yang terkadang dalam bentuk Tanya.

Cara pidato dan menulisnya, memang sangatlah sistematis. Sehingga mudah dicerna dan dipahami. Lagipula, kelugasan memilih kata yang terkadang dicampurbaurkan begitu saja antara bahasa Indonesia dengan Inggris maupun Bugis-Makassar, tidaklah sulit dipahami walau liar. Akan tetapi, memperlihatkan bagaimana seorang Syahrul memasuki fase bahasa gaul yang belum umum. Artinya, ia coba menawarkan cara berbahasa yang terbebas dari aturan tapi tetap menghormati kaidah bahasa yang semestinya.

Hal lain yang dapat disimpulkan dari cara berfikirnya yang sistematis, ternyata bukan hanya pada alur berfikir. Tapi juga pada alur kesinambungan ide. Dan seperti pada buku sebelumnya, judul demi judul tak bisa dipisahkan. Walau beragam tawaran idea dan tema, tapi tetap saja menyatu dalam kesatuan pikirnya sebagai pemikir tentang lingkungan, daerahnya, negerinya, dan rakyatnya. Itu sebabnya, menyusun kumpulan tulisannya tidaklah ruwet.

Cara berfikir yang runtut lalu mengaplikasikan ke dalam judul – judul, memang memudahkan dan menyenangkan bagi mereka yang ingin memahami cara berfikir seorang Syahrul Yasin Limpo. Pun, pada dasarnya masih ada satu pekerjaan yang selalu menyelinap di inti tulisannya yang membutuhkan perenungan lebih dalam. Pasalnya, interpretasi dari sebuah analogi tidaklah mudah jika tidak memahami lebih jauh tentang frame akademik yang melingkupi dan melingkar – lingkar di dalam batok kepalanya. Makanya, walau terlihat gamblang dan sangat jelas, tapi tetap saja tidak! Dan disitulah seni membaca dan menyimak karyanya.

Mestinya, kepadatan fakir dari cara pandang yang dituangkan dalam tulisan yang tetap intens pada kewajiban deadline yang sesuai jadwal dua mingguan untuk hadir bagi pembaca, tidak akan runtut sedemikian rupa. Apalagi, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengabdi pada bangsa dan Negerinya. Sebagai Wakil Gubernur Sulsel, bukanlah hal mudah untuk mengatur jadwal kesibukan yang begitu banyak. Namun, di sela – sela waktu yang terjepit, ia mampu menulis. Kalaupun belum selesai, potongan – potongan tulisan itu kemudian disambung – sambung sendiri, dan memang tetap tersambung. Bila lebih mendalami lagi karyanya kita mestinya tersadar bahwa kita sedang terperangkap untuk mengikuti rima berfikirnya. Kita akan menyadari bahwa kita ikut larut kedalamnya lalu berjalan bersamanya tanpa tahu kapan berhenti. Karena, Syahrul sedang berada di panggung, bermain dengan segala improvisasi dari pengalaman, pengetahuan, kearifan, kesabaran, keuletan, dan berbagai hal yang sudah mendarah daging di tubuhnya. Dan kita sedang menyaksikannya.

Episode demi episode dari berabad yang dimainkannya adalah proses yang panjang. Dari bagian episode itulah, kita mengetahui bila tak ada ujung. Ya, kita sedang menikmati karya Syahrul yang tidak berujung. Episode yang memberi kita pencerahan, penegasan, kegelisahan, pemaparan, kecemasan, obsesi, hingga ke bentuk untuk menjadikan kita sebagai manusia arif yang berharap maksa.

Di buku bertajuk “Berhentilah Mengaduk Samudra” yang berisi 28 judul, merupakan bagian dari lanjutan “Jangan Marah di Muara” . Awalnya, buku ini disiapkan dengan judul “Ketika Kita Dilanda Cemas” untuk menjahit dari fase ke fase pemikirannya yang tertuang ke dalam bentuk karya tulis esai lepas itu, sebab intinya menyerepet ke soal kecemasan. Namun mendekati penghujung 2005, ternyata ada tulisan “Berhentilah Mengaduk Samudra”. Setelah dicermati lebih dalam lagi, judul itulah yang jauh lebih tepat menjadi judul utama buku ini. Malah ketika tim editor berkonsultasi dengannya, judul yang ditawarkan ternyata itu juga, sehingga terasa klop untuk menggunakan judul tersebut yang juga masih saja menyisakan pertanyaan yang butuh jawaban dari kelanjutan episode yang tidak berujung.

Seperti apakah Syahrul dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Ia sedang menjelaskan kepada kita tentang dirinya secara lugas dan gamblang. Untuk itulah, kita mestinya tak melepaskan satu buah pikirannya untuk dicermati. Sebab itulah Syahrul yang beranalogi pada keliaran berfikir dan kedalaman perenungannya.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help