Blog EntryJangan Marah di MuaraOct 9, '07 10:53 PM
for everyone
24 August 2007 - 03:08:08
Jangan Marah di Muara

Silahkan Download disini !

Menekuni dunia birokrasi, menjadi aparat pemerintahan, sebagai public service executor, ada kemiripan dengan menjadi stiker sepak bol atau pun komandan militer. Dalam persepakbolaan, ujung tombak atau eksekutor akan sulit mencetak gol bila ada egosentrisme. Merasa paling hebat, ingin men-dribble sendiri bola, tidak pernah mengharap umpan balik dari rekan-rekannya. Jangankan mencetak gol, sangat mungkin dia malah hanya akan jatuh bangun kehabisan stamina jadi bulan-bulanan tackling lawan. Karena, sepak bola itu esensi-nya team work, kerja sama.

Pun di ketentaraan. Semangat korsa dijadikan suatu pegangan. Gagal tidaknya operasi tempur, misalnya, ditentukan oleh semua komponen di dalamnya. Bukan semata–mata komandan. Sebab, komandan juga tidak dapat berbuat apa-apa tanpa anak buah. Dan, dalam membangun kepemimpinan, filosofi kemiliteran mengajarkan : kalau ingin menjadi komandan yang baik, harus pernah menjadi anak buah yang baik. Atau, menurut versi Philip Massinger, He that would govern others, first should be the master of himself. Sehingga, komandan memiliki empati terhadap anak buahnya. Salah satu implementasinya: ada dalam kebiasaan anak buah tidak bersaing secara vulgar dengan komandan. Tapi, tidak berarti tidak ada dinamika dalam kepimpinanan militer.

Juga saya sebagai public service executor, dalam melaksanakan keseharian tugas, tak mungkinlah kiranya semua saya lakukan sendiri. Ada puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan harap yang minta perhatian. Belum problematika yang harus dicarikan solusi tak kalah banyaknya. Dan, semua tak mungkin ditangani sendiri.

Pengalaman mendengar, menampung, merenungkan sekian banyak harap dan aspirasi, serta mencari problem solving, begitu banyak problema itulah yang hasilnya saya gulirkan ke publik. Bola-bola pikirkan itu sengaja tidak saya dribble sendiri, karena saya ingin ada umpan balik. Mudah-mudahan saya memperoleh umpan balik yang bisa mencapai goal (tujuan).

ITU harapan saya. Tapi, apakah saya bisa menggulirkan bola-bola pikiran saya secara kontinyu? Dikejar-kejar deadline? Padahal kesibukan selalu mengancam untuk mentackle. No one knows what it is that he can do till he tries. Kata-kata bijak Publilius syrus itu seakan jadi cambuk, mendera saya untuk mencoba. Apalagi, rutinitas keseharian pun bisa jadi problem case yang bisa dikristalisasikan.

Maka, jadilah buku ini dengan problematika sosial, politik, kepemimpinan, demokrasi, dan sebagainya, sebagai background. Problematika pemilu, misalnya. Dalam salah satu pidato pada tanggal 19 Mei 1856, Abraham Lincoln mengatakan : ”The ballot is stronger than the bullet.” Sehelai kertas suara lebih kuat (berpengaruh) daripada sebutir peluru! Karena, kertas suara menentukan nasib ribuan bahkan jutaan orang. Penyalahgunaan bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Itu sebabnya, pemilu tidak boleh disepelekan. Harus dipantau secara berkesinambungan. Harus transparansi.
Pemilu pun berkaitan masalah national dan regional leadership. Sebagai tumpuan harapan, sebagai ujung tombak, sebagai eksekutor terejawantahnya civil society. Menjadi pegangan cultural genius kita orang Bugis-Makassar bahwa jika sementara raja bertahta di kerajaannya, maka seluruh masyarakat memberi respon penuh. Bukan sebaliknya, tanpa henti merongrongnya. Jangankan merongrong, sekedar mempersiapkan diri kita secara vulgar untuk mengganti siapa dan siapa, kalau kita masih sama-sama bekerja dengan raja atau pimpinan pun harus dihindari. Karena, kasipalli tomabbuttaya anynyabbusomba beru punna a’ gau’ inji asombata ri karatuanna. Pun leadership succesion harus dilakukan secara beretika. Tidak secara black campaign atau kampanye pembusukan dan character assassination (pembunuhan karakter).
Pesan aparat pemerintah sebagai referee, wasit, pun menjadi sangat krusial. Dalam buku Discourses on Davila, John Adams, menegaskan bahwa : The essence of a free goverment consists in an effectual control of rivalries. Salah satu esensi pemerintahan demokratis adalah menjembatani persaingan. Tapi, apakah aparat mutlak harus netral? Kalaulah ya, apa bedanya dengan apatis?.

Krisis multidimensi yang kita hadapi tak lepas dari perjalanan Indonesia. Meski sudah 59 Tahun dan tidak muda lagi, bangsa kita masih mencari format, norma,dan formula kehidupan bernegara.  Termasuk format, norma, dan formula demokrasi.  Kita masih dalam proses pembelajaran.  Proses pemblajaran demokrasi.   sebelumnya , kita berdemokrasi  masi secara euphoria.  Belum socially conscious.

Jangan Marah Di Muara pun proses pembelajaran.  Belajar mendengar dan menyerap aspirasi, kemudian menyuarakannya kembali kepada public untuk di tanggapi.  Belajar berpikir demokrasi dan demokratis.  Bukan egosentris memutlakkan pikiran sendiri, tapi mengajak partisipasi aktif pembaca.  Mungkin dari operan balik ke saya meupakan umpan matang yang tinggal disundul ke mulut gawang, sehingga tercipta goal kita bersama

Buku yang tersaji ini merupakan bagian kecil dari pembelajaran demokrasi, kepemimpinan, persaudaraan, budaya maupun nilai – nilai hokum, serta filsafat kehidupan.  Hal itu semualah yang saya harapkan.  Sebab buah pikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan, adalah bagian pengabdian saya kepada daerah, negeri, dan bangsa ini.

Itu sebabnya, saya , mencoba melakukan perbaikan bersama tim editor dan tim pekerja lainnya untuk lebih memperbaiki bentuk dan isi buku pada edisi kedua ini.  Hasilnya memang sedikit terasa ada perbedaan.  Bukan hanya pada cover dan bentuk bukunya, tetapi juga telah dialkukan revisi isi karena ternyata ditemukan adanya beberapa kesalahan pemenggalan kata dan juga masih adanya kesalahan ketik.

Lewat kata pengantar tambahan pada isi kedua ini, saya juga ingin menghaturkan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang menbantu hingga terbitnya buku bertajuk “ Jangan Marah Di Muara” (edisi pertama dan kedua) yang merupakan kumpulan dari tulisan saya di Harian Pedoman Rakyat dari Maret hingga akhir Desember 2004.  Tak lupa saya ucapkan terimakasih dan penghormatan saya kepada ayahanda  HM Yasin Limpo, ibunda Hj Nurhayati YL, Istriku Drg Hj ayunsri Harahap yang setia mendampingi saya dan kerap kehilangan waktu karena saya harus menambah aktivitas keseharian saya dengan menulis, anak-anakku Indira Chunda Tita Syahrul  Putri, Kemal Redindo Putra Syahrul, Rinra Sujiwa Syahrul Putra, dan Cucuku Andi Tenri Bilang Radisyah Melati.

Walau kami sudah maksimal menghadirkan tulisan kemedia massa kemudian dibentuk buku ini, kami menyadari bahwa bisa saja masih ada kekurangan yang kami tidak sengaja dan luput dari penglihatan kami.  Untuk itulah, kami menanti saran dan kritik untuk penebitan buku selanjutnya.

Selamat Membaca!


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help